|
Bersegeralah Sebelum Ajal Menjemput
Dikirim Oleh TIM Redaksi || Jumat, 23 Februari 2007 - Pukul: 05:30 WIB
MediaMuslim.Info
- Satu hal yang patut untuk kita renungi adalah, apa persiapan kita untuk menghadapi Hari Akhirat? Apakah kita telah berusaha
dengan sungguh-sungguh untuk melakukan berbagai amal yang dapat menyelamatkan kita dari huru-hara dan kedahsyatannya serta
bencana demi bencana yang datang silih berganti? Pernahkah kita menghitung diri atas apa yang telah kita ucapkan dan kita
perbuat?
Mari segera kita jawab sebelum datang waktunya bagi kita untuk mengucapkan, yang artinya: “.....Ya Rabbku
kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Kemudian kita dapati
jawaban, “Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding
sampai hari mereka dibangkitan.” (QS: Al Mu'minuun: 99-100)
Sungguh para pendahulu Umat Islam adalah orang-orang
yang paling banyak melakukan ibadah, ketaatan dan amal shalih. Namun ternyata mereka tidak begitu saja mengandalkan amal perbuatan
mereka, bahkan mereka senan-tiasa merasa khawatir kalau-kalau apa yang mereka lakukan itu masih belum diterima oleh Alloh
Subhanahu wa Ta’ala, sehingga terus merasa kurang dalam beramal dan tak henti-hentinya memohon ampunan kepada Alloh
Subhanahu wa Ta’ala.
Coba kita perhatikan bagaimana Rasululloh Shallallaahu alaihi wa Salam melakukan shalat
hingga kedua kaki beliau bengkak, kemudian dalam sehari beliau beristighfar mohon ampunan kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala
lebih dari seratus kali. Apakah beliau pernah bermaksiat kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala sehingga harus mohon ampun
sehari lebih dari seratus kali? Demi Alloh Subhanahu wa Ta’ala beliau adalah manusia yang paling taat. Itu semua beliau
lakukan tak lain karena muhasa-bah yang tiada henti, muraqabah dan sikap tawadlu’ yang sempurna kepada Alloh Subhanahu
wa Ta’ala, sehingga beliau terus bertaubat dan beristighfar kepada-Nya. Beliau tidak semata-mata mengandalkan kedudukannya
yang mulia dan tinggi sebagai nabi, bahkan beliau sendiri menyatakan, yang artinya: ”Seseorang masuk Surga bukan semata-mata
karena amalnya.” Para shahabat bertanya, ”Tidak pula engkau wahai Rasululloh? Beliau menjawab, ”Tidak juga
aku, kecuali jika Alloh mencurahkan kepadaku rahmat dan keutamaan-Nya.”
Jika seorang penghulu Nabi saja keadaannya
seperti itu, maka bagaimana lagi dengan kita?Bagaimana mungkin kita merasa bangga dengan amal kita, bahkan kita sering banyak
bergurau, bermain-main, padahal kita tidak tahu ke mana tempat kembali kita kelak di akhirat?
Firman Alloh Subhanahu
wa Ta’ala, yang artinya: “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada Hari Kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang
barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami
sebagai Pembuat perhitungan." (QS: Al Anbiyaa': 47)
Dalam ayat lain Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,
yang artinya: “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan
yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu
terhadap diri (siksa)-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.” (QS: Ali 'Imran: 30)
Alloh Subhanahu
wa Ta’ala akan memutuskan perkara-perkara di antara hamba-hamba-Nya, menghitung keseluruhan amal mereka tak satu pun
yang ketinggalan dan Dia tidak akan menzhalimi hamba-Nya. Bahkan Dia memaafkan, mengampuni dan menyayangi, namun Dia juga
menyiksa siapa saja yang dikehendaki dengan kebijaksanaan dan keadilan-Nya.
(Sumber Rujukan: Al Qur'an dan Berbagai
Sumber)
|